`
TUGAS
MAKALAH KOMUNIKASI MASSA
EFEK
KOMUNIKASI MASSA DALAM PROSES
PEMBANGUNAN
MASYARAKAT INDONESIA
(
PERAN RADIO DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN )
Disusun
oleh :
Tabah
Saputra Wibisono
044115163
C-3
PROGRAM
STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL & ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
PAKUAN BOGOR
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga
selesai . Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari
pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, Saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Bogor, Maret 2016
Penyusun
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, Saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Bogor, Maret 2016
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Radio merupakan salah satu bentuk dari media massa. Media massa adalah alat
yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima)
dengan menggunakan alat-alat komunikasi (Changara, 2006). Radio mendapat
julukan sebagai kekuasaan yang kelima (the
fifth estate), setelah pers. Oleh karena itu, media radio digunakan dalam
menyampaikan pesan, ataupun informasi dari suatu sumber kepada khalayak. Menurut
Changara (2006) kelebihan media radio dibanding dengan media massa yang lainnya
adalah cepat dan mudah dibawa kemana-mana, dan dapat didengar sambil
mengerjakan pekerjaan yang lain, seperti mencuci, mengendarai mobil, memasak,
menulis, dan semacamnya. Radio telah banyak dimanfaatkan kegunaannya bagi
kehidupan masyarakat, dan telah menjadi media yang cukup populer untuk
menyebarkan berbagai informasi. Diantaranya, kegunaan radio untuk pembangunan
pertanian, yaitu sebagai media penyebar informasi, pesan, dan hasil dari
pembangunan.
Menurut Rogers dalam Nasution (2002) definisi pembangunan adalah suatu
perubahan sosial dengan partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang
dimaksudkan untuk kemajuan sosial dan material (termasuk bertambah besarnya keadilan,
kebebasan dan kualitas lainnya yang dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui
kontrol yang lebih besar yang mereka peroleh terhadap lingkungan mereka.
Adapun menurut Syahyuti dalam Dewi (2008), pembangunan pertanian merupakan suatu
upaya peningkatan produksi pertanian melalui ketahanan pangan yang tujuan
utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam proses
pembangunan pertanian, radio mempunyai peran sebagai media yang menyampaikan
informasi pertanian yang menunjang untuk peningkatan produksi pertanian serta
untuk memberdayakan masyarakat petani dalam meningkatkan kesejahteraannya.
Radio dapat dijadikan sebagai media dalam pembangunan pertanian karena
dinilai cukup efektif dalam proses penyebaran informasinya. Penyampaian
informasi dalam media radio dilakukan dengan cara two way communication dan bersifat interaktif serta kemudahan dalam
mengaksesnya karena relatif murah (Kifli, 2007). Kemudahan tersebut berdampak
positif bagi masyarakat petani yang umumnya mereka memiliki keterbatasan dalam
mengakses sumberdaya. Dengan keunggulan dan kemudahan tersebut, diharapkan
media radio dapat berperan banyak dalam meningkatkan pembangunan pertanian.
1.2
Tujuan
1.
Mengetahui karakter
radio sebagai salah satu media komunikasi.
2.
Mengetahui peluang
dan tantangan radio di era globalisasi.
3.
Mengetahui peran dan
efektivitas radio dalam pembangunan pertanian.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PERAN
RADIO DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN
Pengertian
Radio dalam Pembangunan Pertanian
Radio sudah lama dimanfaatkan kegunaannya dalam berkomunikasi bagi
manusia. Radio pada awalnya mempunyai tiga kegunaan, yaitu sebagai alat
hiburan, alat penerangan, dan alat pendidikan, namun setelah meletusnya perang
dunia melanda negara-negara eropa fungsi radio bertambah sebagai alat
propaganda yang bertujuan untuk menyampaikan ideologi suatu bangsa ke dalam
ataupun luar negeri. Pada masa sekarang ini, kemungkinan besar radio
dimanfaatkan sebagai alat hiburan, hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya
kehadiran radio-radio lokal yang program utama acaranya adalah hiburan, seperti
musik. Adapun peran yang lain dari radio adalah sebagai alat penerangan atau
penyebar informasi.
Salah satu peran radio dalam menyampaikan informasi adalah
berpartisipasi dalam pembangunan pertanian. Dalam pembangunan pertanian, radio
sebagai penyebar pesan dan hasil-hasil pertanian. Esensi dari pembangunan
pertanian itu sendiri adalah adanya upaya untuk meningkatkan produktivitas
pertanian seperti bertambahnya inovasi dan kemajuan teknologi, dan adanya upaya
untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pesan dan informasi yang disampaikan
dari hasil pembangunan memiliki suatu tujuan. Dalam usaha pembangunan, haruslah
bertujuan untuk meningkatkan derajat manusia, terutama masyarakat yang hidup
dibawah garis kemiskinan agar mereka dapat hidup layak. Oleh karena itu,
langkah yang harus dilakukan dalam pembangunan adalah mengurangi tingkat
kemiskinan. Dalam pembangunan pertanian, maka yang harus dilakukan adalah
mengurangi tingkat kemiskinan pada masyarakat petani dengan cara meningkatkan
produksi pertanian.
Di Indonesia, peran radio dalam pembangunan pertanian telah
dilakukan sejak dahulu. “Dalam ringkup radio, dikenal Siaran Pedesaan, yang
mula-mula dimulai sebagai Siaran Pertanian”. “ Di samping itu suatu skripsi
tentang Siaran Pedesaan di Kulon Progo (khususnya tentang pedesaan oleh
TVRI-Yogyakarta dengan nama “mBangun Desa) membuktikanbahwa pelaksanaan yang
dianjurkan oleh siaran tersebut lebih terjamin dan berhasil di desa-desa di
mana terbanyak anggota kelompoknya adalah wanita” (Susanto,1982:177). Contoh
tersebut telah membuktikan bahwa di Indonesia radio telah berperan dalam
pembangunan pertanian melalui program Siaran Pedesaan.
BAB III
ISI
3.1 Radio sebagai Media
Massa
Media
massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada
khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi (Changara, 2006).
Media massa terbagi ke dalam dua kategori, yaitu media massa cetak dan media
elektronik. Media cetak yang dapat memenuhi kriteria sebagai media massa adalah
surat kabar dan majalah. Sedangkan media elektronik yang memenuhi kriteria
media massa adalah Z radio, televisi, film, dan media online (internet,
termasuk di dalamnya media sosial).
Menurut
Undang-undang Penyiaran Nomor 32/2002 penyiaran merupakan kegiatan penyebarluasan siaran melalui sarana
pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan
menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya
untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan
perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Penyiaran radio sendiri diartikan sebagai media komunikasi massa dengar, yang
menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka,
berupa program yang teratur dan berkesinambungan.
Radio
pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada saat pendirian Bataviasche Radio
Veregening (BRV) pada tanggal 16 Juni 1925 oleh Weltevreden. Lahirnya BRV ini
merangsang masyarakat Indonesia untuk mendirikan pemancar amatir dengan
gelombang masing-masing, sebab pada waktu itu belum ada ketentuan penetapan
gelombang siaran. Lima tahun sesudah
lahirnya BRV, tepatnya pada tahun 1930 Jawatan Pos Telepon dan Telegraf Hindia
Belanda mengadakan siaran percobaan lagu-lagu barat. Tahun1934 radio NIROM
berdiri di Jakarta. Radio Nirom disubsidi pemerintah dan sekaligus menjadi
siaran resmi pemerintah penjajahan Belanda. Kemudian mulai perjuangan kemerdekaan
RI, radio di Indonesia terus berkembang, sampai sekarang radio telah berkembang
dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
3.2 Karakteristik Radio
Radio
memiliki ciri khas atau karakteristik tersendiri. Karakteristik radio ini
bisa juga menjadi keunggulan dan kelemahan media radio.
Menurut Romli (2014) radio memiliki sepuluh karakteristik. Karakteristik radio
antara lain :
1.
Auditory
Radio
adalah suara. Hanya suara yang bisa disampaikan di radio.
Apapun yang ingin disampaikan di radio, harus dalam bentuk suara atau
disuarakan. Secara umum suara yang muncul di radio atau disiarkan radio ada dua
macam: musik dan kata-kata. Hal tersebut berimplikasi bahwa pendengar
harus mampu menerima dan suara (pesan komunikasi) sehingga pesan yang
disampaikan oleh penyiar akan dapat diterima oleh khalayak.
2.
Theatre of Mind
Radio
atau penyiar dengan kata-kata (words) dan efek suara (sound effect),
dapat membuat gambar di benak pendengar, membuat pendengar berimaginasi,
membayangkan sosok sesuatu seperti orang,
pasar, mal, kerusuhan, demonstrasi, buku,
dan lain lain.
3.
Cepat
dan Langsung
Radio
termasuk media tercepat, lebih cepat dari koran ataupun TV dalam menyampaikan
informasi kepada publik, tanpa melalui proses yang rumit dan butuh waktu banyak
seperti siaran TV
atau sajian media cetak. Hanya dengan melalui telepon, reporter radio dapat
secara langsung menyampaikan berita atau melaporkan peristiwa yang ada di
lapangan.
Bila dibandingkan dengan media lainnya seperti koran dan majalah serta televisi
(bukan siaran langsung), pesan melalui radio akan jauh lebih cepat
terdistribusi ke khalayak.
4.
Akrab
Radio
adalah alat yang akrab dengan pemiliknya. Penyiar atau orang yang membawakan
radio biasanya memiliki gaya bahasa yang luwes dan lugas sehingga lebih akrab
dengan pendengar. Akibatnya, pendengar tidak merasa cepat bosan dan membuat
efektivitas radio meningkat karena khalayak ingin tetap terus mendengarkan isi
siaran
5.
Personal
Suara
penyiar hadir di rumah atau di dekat pendengar. Pembicaraannya langsung
menyentuh aspek pribadi (interpersonal communications), dengan
pendekatan pribadi (personal approach), sehingga radio seolah-oleh
dapat menjadi teman pribadi yang setia
bagi yang mendengarkannya.
Radio juga biasanya memiliki segmentasi khalayak tersendiri dan memiliki
pendengar setia karena sifatnya yang personal.
6.
Hangat
Paduan
kata-kata, musik, dan efek suara dalam siaran radio mampu mempengaruhi emosi
pendengar. Pendengar akan bereaksi atas kehangatan suara penyiar dan seringkali
berpikir bahwa penyiar adalah seorang teman bagi mereka.
7.
Sederhana
Tidak
rumit, tidak banyak pernik, baik bagi pengelola maupun pendengar.
Umumnya, radio gaya bahasa yang digunakan dalam siaran radio lebih sederhana
dan sesuai dengan daya tangkap dan daya nalar pendengar sehingga lebih mudah
ditangkap pesannya oleh pendengar.
8.
Tanpa Batas
Wide
Coverage, jangkauan wilayah siarannya luas. Siaran
radio menembus batas-batas geografis, demografis, SARA (Suku, Agama, Ras,
Antargolongan), dan kelas sosial. Radio juga illiteracy, dapat dinikmati
oleh yang buta huruf. Hanya kaum tuna rungu yang tak mampu mengkonsumsi atau
menikmati siaran radio.
9.
Murah
Dibandingkan
dengan berlangganan media cetak atau harga pesawat televisi, pesawat radio
relatif jauh lebih murah. Pendengar pun tidak dipungut bayaran seperser pun
untuk mendengarkan radio. Orang bisa mendengarkan aneka musik, hiburan, dan
informasi, tanpa harus membayar alias gratis.
10. Fleksibel
Siaran
radio bisa dinikmati sambil mengerjakan hal lain atau tanpa mengganggu
aktivitas yang lain, seperti memasak, mengemudi, belajar, dan membaca koran
atau buku. Tampil sebagai teman pribadi di rumah, di meja belajar, di
perjalanan, atau teman minum kopi saat pagi, sore, atau malam hari. Selain itu, pesawat
radio pun mobile atau portable,
mudah dibawa ke mana saja. seseorang/kelompok yang ingin mendengarkan siaran
radio, praktis tinggal membawa radio/alat komunikasi yang sudah ada pesawat
radionya sehingga lebih fleksibel dan mudah dibawa kemana-mana
3.3
Fungsi
Radio sebagai Media
1. Fungsi bisnis
Sebagai media, radio seringkali hanya dipandang sebagai institusi sosial, politik, dan budaya
belaka. Akan
tetapi, perkembangan dewasa ini memperlihatkan media
tidak lagi dilihat semata-mata sebagai institusi sosial dan politik, melainkan
juga sebagai institusi ekonomi. Fakta menunjukkan bahwa media telah tumbuh
bukan saja sebagai alat penyampai pesan-pesan sosial, politik dan budaya, tetapi juga sebagai
perusahaan yang menekankan keuntungan ekonomi.
Radio merupakan industri yang berubah
dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang, dan jasa, radio juga memiliki industri tersendiri yang memiliki
peraturan dan norma-norma yang menghubungkan industri tersebut dengan
masyarakat dengan institusi sosial lainnya.
Sebagai media komersial, radio dikelola dan
diusahakan oleh suatu organisasi bisnis, sehingga orientasi kerjanya adalah
untuk mendapatkan keuntungan. Biaya operasi media komersial ini diperoleh dari
hasil penjualan, baik penjualan produk media, seperti berita, hiburan maupun
penjualan ruang untuk para pemasang iklan untuk mempromosikan produknya. Dalam
kehidupan sehari-hari kita bisa menyaksikan bagaimana menjual produk yang
berupa berita yang dikemas dalam berbagai acara, juga menyediakan ruang dan
waktunya untuk para pemasang iklan sehingga dapat menutup biaya dalam produksi
dan perkembangan radio tersebut..
2. Fungsi Informasi
Radio sebagai
media massa utamanya menjadi media informasi, yaitu media yang setiap
saat
menyampaikan informasi kepada
masyarakat. Dengan informasi
yang terbuka dan jujur dan benar disampaikan
media massa kepada masyarakat, maka masyarakat akan menjadi masyarakat yang kaya dengan informasi, masyarakat yang terbuka dengan informasi,
sebaiknya pula masyarakat akan menjadi
masyarakat informatif, masyarakat
yang dapat menyampaikan informasi
dengan jujur kepada media massa. Selain itu, informasi yang banyak dimiliki
oleh masyarakat, menjadikan masyarakat sebagai masyarakat dunia yang dapat
berpartisipasi dengan berbagai kemampuannya (McQuail, 1987).
Melalui radio, banyak informasi pertanian yang
dapat disalurkan kepada masyarakat. Informasi tersebut baik berupa penemuan
inovasi baru dalam pertanian yang berguna dan mendukung bagi pembangunan
pertanian sehingga akan mempercepat proses pembangunan. Salah satu aspek
pembangunan ialah tersedianya sumberdaya manusia yang memiliki keahlian,
pengetahuan, dan keterampilan lain mengenai sesuatu. Melalui radio, pemirsa
yang semula tidak tahu akan inovasi baru bidang pertanian akan menjadi tahu dan
mengenal, yang semula tahu menjadi lebih tahu, dan yang sudah tahu agar lebih
menerapkan.
Di Indonesia banyak terdapat media komunitas,
baik yang berupa media cetak ataupun yang berupa televisi komunitas yang
dikembangkan beberapa warga masyarakat untuk menyebarluaskan informasi.
Namun, yang paling banyak adalah yang
berupa radio komunitas. Mengapa demikian
karena dari berbagai bentuk media, radio siaranlah yang paling mudah
dioperasikan dan paling murah biayanya dibandingkan dengan media cetak atau
media televisi sehingga sangat efektif untuk menyiarkan informasi (Nurudin,
2007).
- Fungsi Hiburan
Fungsi hiburan selalu dijalankan oleh setiap media
massa, termasuk radio. Sebagai agent of change, media massa juga menjadi institusi budaya, yaitu institusi
yang setiap saat menjadi
corong kebudayaan, katalisator perkembangan budaya.
Sebagai agent of change yang dimaksud
adalah juga mendorong
agar perkembangan budaya itubermanfaat bagi manusia bermoral dan
masyarakat sakinah, dengan demikian media massa juga berperan untuk mencegah berkembangnya budaya-budaya yang justru merusak peradaban manusia dan masyarakatnya.
4. Fungsi Komunikasi
Mencermati pengertian pers di atas maka dapat dipahami
bahwa pers sebagai media komunikasi massa adalah lembaga/institusi
(bisnis/sosial/kemasyarakatan) yang di dalamnya terdapat kegiatan junalistik
yaitu mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan
informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta
data grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media
elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia (McQuail, 1987).
Radio adalah lembaga sosial dan wahana
komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik
dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik
maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik,
dan segala jenis saluran yang tersedia. Memproduksi dan mendistribusikan
pengetahuan dalam wujud informasi, pandangan, dan budaya. Upaya tersebut
merupakan respon terhadap kebutuhan sosial kolektif dan permintaan individu (McQuail, 1987).
Menyediakan saluran untuk menghubungkan orang tertentu
dengan orang lain: dari pengirim ke penerima, dari anggota audien ke anggota
audien lainnya, dari seseorang ke masyarakat dan institusi masyarakat terkait.
Semua itu bukan sekedar saluran fisik jaringan komunikasi, melainkan juga
merupakan saluran tatacara dan pengetahuan yang menentukan siapakah sebenarnya
yang patut atau berkemungkinan untuk mendengar sesuatu dan kepada siapa ia
harus mendengarnya (Nurudin, 2007).
5.Fungsi sosial
Radio menjalankan fungsi
pengawasan peringatan, jika menginformasikan tentang ancaman yang disebabkan
oleh beberapa hal, misalnya bencana alam, serangan militer, inflasi dan krisis
ekonomi. Fungsi pengawasan instrumental dari media massa jika informasi yang
disampaikan memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam konteks kontrol sosial, radio juga
sebagai sarana komunikasi masa memiliki juga fungsi pengawasan (surveillance). Fungsi pengawasan ini
memiliki dua tipe yakni peringatan dan alat pengawasan. Tipe pertama sangat
penting terutama dalam menginformasikan gejala-gejala yang menentukan hidup
mansuai atau suatu masyarakat seperti peringatan akan adanya gunung meletus,
inflasi ekonomi, bahaya banjir dan lain sebagainya. Dan sebagai alah pengawasan,
media massa meneruskan informasi yang berguna dan membantu kehidupan setiap
hari (Rakhmat, 2004).
3.4 Peranan
Radio dalam Pembangunan Pertanian
Salah satu bentuk media massa
yang potensial untuk mendukung pemberdayaan masyarakat perdesaan adalah radio.
Media siaran ini memiliki kemampuan tinggi untuk mengantarkan dan menyebarkan
pesan-pesan pembangunan secara cepat dan serentak kepada khalayak luas, yang
berada di tempat yang terpencar, tersebar luas, sampai ke tempat-tempat yang
jauh terpencil dan sulit dicapai angkutan umum.
Pembangunan pertanian dan
pedesaan yang telah dilaksanakan selama ini, di satu sisi telah berhasil
mengubah wajah pertanian dan perdesaan Indonesia. Disamping perubahan di bidang
prasarana fisik, teknologi dan produktivitas pertanian, para petani Indonesia
juga telah berubah secara nyata. Secara makro populasi petani telah menjadi
lebih kecil jumlahnya secara persentase tetapi lebih tinggi kualitasnya, yang
ditandai oleh lebih baiknya tingkat pendidikan mereka, lebih mengenal kemajuan,
kebutuhan dan harapan-harapannya meningkat, dan pengetahuan serta keterampilan
bertaninya juga jauh lebih baik. Dengan memperhatikan keadaan dan perubahan
pembangunan pertanian dewasa ini beserta tantangan-tantangan yang ada, sangat
perlu dipersiapkan strategi pendidikan masyarakat perdesaan yang efektif dalam
menunjang pembangunan (Hadi, 2007).
Peran radio dalam
menyampaikan informasi adalah berpartisipasi dalam pembangunan pertanian. Dalam
pembangunan pertanian, radio sebagai penyebar pesan dan hasil-hasil pertanian.
Esensi dari pembangunan pertanian itu sendiri adalah adanya upaya untuk
meningkatkan produktivitas pertanian seperti bertambahnya inovasi dan kemajuan
teknologi, dan adanya upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Pesan dan informasi yang
disampaikan dari hasil pembangunan memiliki suatu tujuan. Dalam usaha
pembangunan, haruslah bertujuan untuk meningkatkan derajat manusia, terutama
masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan agar mereka dapat hidup layak.
Oleh karena itu, langkah yang harus dilakukan dalam pembangunan adalah
mengurangi tingkat kemiskinan. Dalam
pembangunan pertanian, maka yang harus dilakukan adalah mengurangi tingkat
kemiskinan pada masyarakat petani dengan cara meningkatkan produksi pertanian.
Peran radio radio dalam pembangunan
pertanian telah dilakukan sejak dahulu. Dalam ringkup radio, dikenal Siaran
Pedesaan, yang mula-mula dimulai sebagai Siaran Pertanian.
3.5 Peluang Radio Sebagai
Sarana Pembagunan Pertanian
Media
radio selain memiliki keunggulan dan efektif sebagai sarana dalam menyampaikan pesan
pembangunan, juga memiliki hambatan. Dalam proses pembangunan, manusia ada
kecenderungan untuk menginginkan sifat manusiawi, yaitu situasi tatap muka atau
komunikasi antar pribadi (interpersonal
communication). Agak lain halnya dengan televisi yang di samping suara,
masih membawa gambar dari komunikator, sehingga penyajian pesan nampaknya
menjadi lebih “manusiawi’ dengan terjadinya tatap muka yang semu
(Susanto,1982). Selain itu, ada kelemahan radio yang menghambat penyampaian
pesan, Bahwa radio juga memiliki kelemahan, terutama informasinya yang selintas
membuat informasi yang disampaikan sulit diingat, karena siaran radio melalui
pendengaran dan hanya sekali maka informasi tersebut tidak bisa di dokumentasikan
oleh pendengarnya (Romli cit.
Puspitasari, 2009).
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Karakter radio sebagai media yakni hanya produksi suara,
informasi muncul selintas, unggul dalam kecepatan, imajinatif, fleksibel,
murah, sederhana, tanpa batas jangkauan, dan bersifat hangat, dekat, dan
personal kepada pemirsa.
2. Fungsi radio sebagai media yakni melaksanakan fungsi
bisnis, informasi, hiburan, komunikasi, dan sosial.
3. Peluang radio sebagai sarana penunjang pembangunan
pertanian sangat besar karena radio lebih bersifat dekat dengan masyarakat
(interpersonal), unggul dalam kecepatan, murah, dan fleksibel.
4. Kelemahan dan tantangan radio sebagai sarana penunjang
pembangunan pertanian yakni hanya
produksi audio (informasi menjadi kurang jelas), tidak terdokumentasi,
imajinatif (memunculkan makna yang keliru), dan kurang mengenai sasaran yang
dituju yakni petani.
5. Peran radio dalam pembangunan pertanian yakni utamanya
dalam menyebarkan informasi penunjang pembangunan pertanian layaknya inovasi
pertanian dan mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku pelaku pertanian
sehingga dapat bergerak untuk mendukung pembangunan pertanian.
6. Efektivitas radio dibandingkan dengan media massa lainnya
yakni masih sangat kurang karena umumnya masyarakat telah beralih untuk menggunakan
internet dan televisi yang memiliki banyak keunggulan dibanding radio.
4.2
Saran
Melihat berbagai peluang,
hambatan, dan tantangan mengenai peran radio dalam pembangunan, dapat dikatakan
sebenarnya radio memiliki peluang yang cukup besar sebagai sarana penunjang
pembangunan pertanian. akan tetapi, di era globalisasi seperti sekarang ini,
radio cenderung kurang efektif dalam menyebarkan informasi pertanian meskipun
jumlah penggunanya tinggi dan tidak kalah dengan media lainnya. Hal tersebut
karena radio hanya produksi suara yang akan menimbulkan kejenuhan pemirsa,
memunculkan makna yang berbeda seperti yang dimaksud oleh komunikator, dan
cenderung lebih mengarah sebagi fungsi hiburan terkait materi yang disiarkan.
Oleh karena itu, melihat jumlah pengguna radio yang tinggi, seharusnya antara
pemerintah dan media dapat bekerja sama dalam membuat program siaran di radio
sehingga lebih menarik dan efektif dalam menjalankan fungsinya sebagai
institusi komunikasi yang juga berfungsi sebagai sarana pembangunan. Selain
itu, media (radio) juga hendaknya lebih mengutamakan isi program yang bersifat
mendidik pemirsa terkait dengan penyiaran inovasi pertanian dan hal yang
terkait, bukan lebih mengedepankan fungsi hiburannya agar banyak pemirsa yang
mendengarkan. Sebagai konsumen juga hendaknya tidak meninggalkan radio sebagai
sarana komunikasi dalam pembangunan pertanian karena di dalamnya terdapat
informasi penting terkait pertanian yang dapat menambah wawasan, mengubah
sikap, dan berperilaku untuk bisa berpartisispasi dalam pembangunan pertanian.
4.3 Kata
Penutup
Demikianlah yang dapat saya
sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam makalah ini, tentunya
banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya pengetahuan kurangnya rujukan
atau referensi yang saya peroleh hubungannya dengan makalah ini Penulis banyak
berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik saran yang
membangun kepada saya demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis para pembaca khusus pada penulis.
Lampiran kliping
Daftar
pustaka
Zumar, D. 2010. <http://dzumar.wordpress.com



0 comments:
Posting Komentar